JAKARTA - Danantara, sebuah badan yang bergerak dalam penanganan pascabencana, resmi memulai pembangunan hunian tetap bagi korban banjir di tiga provinsi di Pulau Sumatera melalui acara peletakan batu pertama atau groundbreaking di Sumatera Barat pada tanggal 19 Februari 2026. Proyek ini menandai fase baru dalam upaya pemulihan pascabencana, setelah sebelumnya fokus pada hunian sementara bagi masyarakat terdampak banjir di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Latar Belakang Proyek Hunian Tetap
Program pembangunan hunian tetap, atau huntap, dilatarbelakangi kebutuhan jangka panjang masyarakat terdampak bencana banjir di Sumatera yang rumahnya rusak atau hilang akibat kondisi ekstrem akhir tahun sebelumnya. Upaya ini merupakan kelanjutan dari fase awal tanggap darurat, di mana Danantara terlebih dahulu membangun hunian sementara (huntara) untuk menampung para korban. Total huntara yang telah rampung dibangun mencapai ribuan unit di berbagai daerah terdampak, termasuk Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Menurut Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, proyek huntap ini dirancang sebagai respons atas kebutuhan yang makin mendesak untuk menyediakan tempat tinggal permanen yang layak dan aman bagi para penyintas. Pembangunan ini akan dilakukan secara bertahap, dimulai dari Sumatera Barat kemudian dilanjutkan di provinsi lainnya.
Detail Groundbreaking dan Rencana Tahapan
Upacara groundbreaking di Sumatera Barat menandai fase awal dari pembangunan huntap yang diproyeksikan akan dibangun di provinsi-provinsi terdampak lainnya seperti Aceh dan Sumatera Utara. Dalam kesempatan itu, Dony Oskaria menyampaikan bahwa koordinasi dengan Kementerian Perumahan berlangsung intens agar proses pembangunan berjalan sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta standar teknis yang berlaku.
Walaupun belum ada rincian jumlah pasti unit huntap yang akan dibangun di masing-masing wilayah, Dony memastikan bahwa proyek ini merupakan komitmen jangka panjang Danantara untuk mempercepat pemulihan masyarakat pascabencana. Pendanaan untuk pembangunan hunian tetap ini sebagian besar diambil dari alokasi anggaran huntara yang sebelumnya tidak terserap sepenuhnya.
Peralihan Fokus dari Huntara ke Huntap
Sebelumnya, Danantara telah fokus pada pembangunan hunian sementara (huntara), dengan total unit yang telah selesai dibangun dan diserahkan kepada pemerintah daerah mencapai lebih dari seribu unit. Rinciannya termasuk 1.075 unit di wilayah Aceh, 200 unit di Sumatera Utara, dan 123 unit di Sumatera Barat. Unit-unit tersebut kini telah ditempati oleh warga terdampak dan menjadi titik awal pemulihan kehidupan mereka setelah kehilangan tempat tinggal akibat bencana.
Dengan menyisihkan anggaran huntara yang belum dimanfaatkan, Danantara memutuskan untuk mengalihkan sebagian dana tersebut ke pembangunan huntap yang bersifat permanen. Menurut penjelasan Dony, dari alokasi awal anggaran huntara sebesar 15.000 unit, ternyata kebutuhan di lapangan tidak sebesar itu sehingga sisa anggaran dialokasikan untuk membangun hunian tetap.
Kolaborasi dengan Pemerintah dan Pihak Terkait
Pembangunan hunian tetap ini melibatkan koordinasi yang erat antara Danantara dan instansi pemerintah terkait, terutama Kementerian Perumahan dan Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Kerja sama tersebut ditujukan untuk memastikan bahwa hunian tetap yang dibangun sesuai dengan kebutuhan teknis, ruang, dan standar kehidupan yang layak bagi masyarakat.
Selain itu, pendekatan kolaboratif ini juga mencakup upaya koordinasi lain seperti pemetaan lokasi pembangunan, penyediaan infrastruktur dasar, dan perencanaan jangka panjang agar komunitas yang terdampak dapat pulih secara sosial serta ekonomi setelah masa bencana.
Harapan dan Tantangan ke Depan
Proyek pembangunan hunian tetap ini diharapkan dapat menjadi solusi berkelanjutan bagi masyarakat korban banjir di Pulau Sumatera. Dengan hunian yang aman dan bertahan lama, penghuni tidak lagi bergantung pada hunian sementara yang bersifat sementara dan sering kali kurang layak dalam jangka panjang.
Namun, tantangan yang dihadapi termasuk memastikan kelancaran distribusi bantuan, kesiapan lahan, serta kemampuan mengatasi kendala teknis di lokasi yang berbeda-beda. Kerja sama antara pemerintah, organisasi penanggulangan bencana, dan pihak swasta diharapkan bisa menjawab berbagai tantangan tersebut demi percepatan proses pembangunan.
Dengan ground breaking di Sumatera Barat sebagai titik awal, program huntap ini menjadi bagian penting dari agenda rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana, diharapkan memberi harapan baru bagi ribuan keluarga yang terdampak banjir di Sumatera untuk kembali memiliki tempat tinggal yang layak dan permanen.